Tampilkan postingan dengan label Kiat Sukses Pelamar Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiat Sukses Pelamar Kerja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2009

Menjadi Guru???

Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan
juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan
pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat
menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan
tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy
(sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas
khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah
kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak
disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak
berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun
bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan
kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang
menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik.
Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian
anak yang beradu dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat
seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk,
duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya
kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas
mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral
Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya
melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan
kepandaiannya menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia
tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu
menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan.
Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan
saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa
damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak
disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar.
Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka
tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu.
Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing.
Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya.
Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin,
membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap
anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat
mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat”
kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding
dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju
pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya.
Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil
berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya
melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda
mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya.
Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk
sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke
samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam
saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat
kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya
biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga
kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan
yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga
pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab
mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya
kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar
pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan.
Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik
mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar
lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar
mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang
banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita
menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru.
Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu,
dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang
berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Selasa, 30 Juni 2009

Anda Lebih Penting Dari Masalah Anda


Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Proses pertumbuhan dan belajar selalu melibatkan resiko. Keberanian memberi anda kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan. Keberanian berasal dari pikiran anda yang jauh lebih bertenaga daripada lingkungan luar anda. Bila anda menyadari bahwa betapa besarnya anda dibanding persoalan yang ada, maka anda akan mendapatkan keberanian untuk mengatasinya.Rintangan akan selalu tampak besar atau kecil sesuai dengan penglihatan anda. Keberanian adalah kapasitas untuk menghadapi apa yang terbayangkan. Ia akan memberi anda kemampuan untuk mengatasi kenyataan.

Melewati rintangan adalah buah dari pencapaian, buah dari keberhasilan. Lihatlah persoalan sebagaimana yang anda inginkan, bukan sebagaimana yang tampak. (Daily Motivation)

Kata Motivasi by Resensinet 

Kamis, 25 Juni 2009

Marah yang Bermanfaat


Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Marah yang Bermanfaat
Saat ini tampaknya banyak orang yang mudah marah atau terpancing emosinya. Bisa jadi marah karena masalah yang besar atau bahkan marah karena hal yang sepele. Contoh yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari – hari misalnya adalah kemarahan di jalan raya. Seseorang yang sedang berkendara atau berjalan kaki, yang semula tenang dapat berubah dan marah – marah karena ada pengendara lain yang memotong jalan atau hampir menabraknya. Kejadian yang lebih parah adalah ketika akhirnya hari itu menjadi kacau akibat kemarahan tersebut.

Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah seseorang tidak boleh marah? Apakah amarah selalu berakibat buruk?

Jawabannya adalah seseorang boleh saja marah dan amarah tidak selalu harus berakibat buruk. Tetapi bagaimana caranya agar amarah tidak membuat kacau dan justru malah bermanfaat bagi seseorang? Ini yang perlu kita pelajari.

Amarah adalah salah satu bentuk emosi yang dimiliki oleh seseorang. Emosi sendiri memiliki kekuatan yang sangat dahsyat untuk membangun atau menghancurkan kehidupan seseorang. Ketika emosi dikelola dengan baik, kekuatannya dapat membangun kehidupan seseorang menjadi lebih baik, tetapi begitu juga sebaliknya ketika emosi tidak dikelola dengan baik.

Marah yang bermanfaat adalah marah yang tepat dan sudah dikelola dengan baik. Hal ini jelas tidak mudah, butuh waktu, kesabaran dan hati yang lapang, tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan. Langkah pertama yang perlu dilatih terus menerus adalah menyadari ketika kita merasa marah.

Sadari bahwa saat ini aku sedang marah. Proses menyadari adalah langkah awal untuk mengendalikan dan mengelola amarah.
Setelah menyadari, seseorang perlu memahami dan menerima alasan kenapa ia marah. Inilah langkah yang kedua, proses memahami dan menerima bahwa ada sesuatu yang membuatnya marah.

Termasuk dalam proses memahami adalah mengevaluasi penyebab kemarahannya. Seorang Ibu yang baru pulang bekerja mulai merasa marah ketika anaknya yang masih balita merengek – rengek padanya, padahal ia merasa sangat lelah. Ibu ini dapat saja langsung memarahi anaknya dan meminta anaknya untuk tidak mengganggunya. Tetapi hal tersebut dapat berbuntut anak tambah menangis dan si-Ibu semakin frustasi.

Ketika si-Ibu mau mencoba menyadari, kemudian mencoba memahami kejadian tersebut, ia akan dapat melihat bahwa anaknya merengek – rengek bukan karena nakal, tetapi anaknya rindu padanya.

Berdasarkan kisah dari beberapa orang, terungkap bahwa terkadang sesuatu yang membuat marah justru punya alasan atau maksud yang berbeda. Banyak yang menyesal karena sudah marah – marah untuk alasan yang tidak tepat, misalnya marah karena ada orang yang menunjuk – nunjukkan jari padanya, padahal orang tersebut bermaksud memberitahu bahwa ada bahaya yang mengancamnya dari belakang. Alasan sebenarnya inilah yang perlu kita pahami agar tidak asal marah dan buang – buang energi.

Langkah yang ketiga adalah mengelola atau mengekspresikan amarah dengan tepat. Jika kita punya alasan yang tepat, misalnya bukan hanya meluapkan emosi, tetapi juga demi pembelajaran bagi orang lain, kita dapat mengungkapkan kemarahan kita.

Kemarahan yang bermanfaat tentu saja bukan kemarahan yang ingin membalas atau menyakiti orang lain, melainkan marah yang mendidik dan membangun.

Cara lain yang dapat kita lakukan adalah mengelola dengan mengubah amarah yang kita rasakan menjadi hal yang positif bagi diri kita. Kita dapat mencoba melihat sisi positif dari kejadian yang membuat kita marah, mengambil hikmah atau pembelajaran dari kejadian tersebut.

Kita juga dapat mengubah energi kemarahan yang kita rasakan menjadi energi yang dapat memotivasi kita melakukan hal yang bermanfaat. Daripada marah – marah pada pengendara motor yang memotong jalan dan sudah tidak tampak lagi, lebih baik energi yang ada digunakan untuk lebih waspada, mencermati jalan, menyalurkan hobi menyanyi, atau menyelesaikan pekerjaan di kantor.

Intinya adalah jangan terjebak pada kemarahan yang dapat merusak hari dan diri kita, tetapi manfaatkanlah kemarahan dengan cara yang tepat. Sadari, pahami dan kelola dengan tepat emosi marah yang kita rasakan karena kemampuan ini adalah bagian dari kecerdasan emosi yang kita miliki.

Sumber : www.kompas.com




Selasa, 16 Juni 2009

Motivasi Diri

Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

LIFE IS MADE UP OF A SERIES OF EXPERIENCES
>
> Each one will make you stronger,
> even though it may be hard for you
> to realize it at the time.
>
> Life is your classroom
> in which you're being tested, tried, and passed.
> Always try to stay in the midst of life and activity.
> Don't isolate yourself from the action.
> Your character develops itself in the stream of life.
>
> The setbacks and hardships you endure
> actually help you in your march forward to success.
> The world was built to develop your character.
>
> But, life expects you to make progress
> in reasonable time.
> That's why those third grade school chairs
> are so small.

Kamis, 04 Juni 2009

7 Kiat Jitu Taklukan Wawancara Kerja


Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Wawancara kerja memang merupakan tahapan penting dalam proses perekrutan karyawan. Bila surat lamaran dan CV dianggap sebagai gerbang pertama antara pelamar pekerjaan dan perusahaan, wawancara kerja adalah akses langsung yang mempertemukan pelamar kerja dengan perusahaan.

Bagi pelamar pekerjaan, “Dia bisa menyampaikan secara langsung gambaran mengenai dirinya yang terkait dengan pekerjaan yang dilamar pada saat wawancara,” kata Netty Delima, konsultan Experd, biro konsultasi manajemen dan ketenagakerjaan. Sedangkan bagi perusahaan, “Mereka bisa menggali informasi yang lebih mendalam dari CV pelamar, menilai kepribadian pelamar, serta memperoleh data tambahan yang tidak dituliskan oleh pelamar,” lanjut Netty. Erina Collins, salah seorang agen rekruitmen tenaga kerja di Los Angeles menyatakan, sering kali ada perbedaan yang mengejutkan antara CV yang dibaca dengan pelamar yang berhadapan langsung dengan si pewawancara. “Surat lamaran yang optimis, tidak selalu menunjukkan bahwa pelamarnya juga sama optimisnya.”

Meski telah memahami bahwa wawancara kerja merupakan suatu tahap yang biasa dilalui dalam melamar pekerjaan, masih banyak pelamar yang merasa tidak siap menghadapi wawancara. Tidak jarang perasaan gugup dan patah semangat langsung menyerang karena sudah berkali-kali gagal. Padahal, rasa takut menghadapi kemungkinan tidak lolos itulah yang semakin menciptakan rasa tidak percaya diri saat menghadapi wawancara kerja. “Lebih-lebih bila wawancara yang dilakukan adalah untuk perusahaan besar,” ujar Wisnu.

Mempersiapkan wawancara kerja memang memerlukan usaha tertentu. Tip-tip berikut mungkin dapat membantu meningkatkan rasa pede Anda sekaligus melicinkan jalan menuju perusahaan idaman.

Kejar Info Mengenai Wawancara
“Saya pernah menjalani tes wawancara kerja tanpa research terlebih dahulu tentang perusahaan yang memanggil saya,” kihsa Shindu Wibisono, 26 tahun. “Buntutnya, saya hanya bengong seperti orang bodoh saat ditanya tentang background perusahaan dan produk-produk mereka.”

Beda dengan Yunita Marpaung, staf pemasaran di sebuah perusahaan swasta yang berlokasi di kawasan Thamrin. “Suatu hari sebelum hari-H, saya pasti menggali info sebanyak-banyaknya tentang perusahaan itu, terutama yang berhubungan dengan posisi yang saya lamar.” Alhasil, wanita yang akrab dipanggil Ita itu mengaku lebih pede menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemberi kerja, karena sedikit banyak telah menguasai ‘lapangan’. “Tapi kalau memang nggak tahu, ya, saya tidak akan ngeyel,” lanjut Ita. “Biasanya langsung saja saya bilang, ‘Maaf, Pak, saya tidak tahu.’”

Berpakaian Yang Sopan Dan Rapi
Kenakan busana yang ‘aman’, artinya: “Yang sesuai dengan konteks lingkungan kantor pada umumnya,” saran Netty dari Experd. Misalnya, paduan blazer dan celana panjang atau blazer dan rok untuk wanita, serta kemeja lengan panjang dan celana panjang untuk pria. Pakailah pakaian yang tidak mudah kusut sehingga dapat menunjang kerapian dan penampilan Anda. Gunakan pakaian yang nyaman di tubuh, agar konsentrasi tidak terserap hanya untuk memperhatikan penampilan Anda.

Menurut Netty, warna-warna yang sebaiknya digunakan adalah warna-warna yang bersifat netral, seperti hitam, birut, cokelat atau beige, yang dapat membuat penampilan tampak lebih profesional. Satu hal penting yang juga perli diingat, “Tampillah sesuai dengan posisi yang Anda lamar, bukan posisi Anda pada saat Anda melamar,” pesan Netty.

Tampakkan Ekspresi Muka Yang Menyenangkan
Umumnya, perusahaan menyukai pelamar yang menyenangkan. “Senyum dan ekspresi yang tulus adalah kunci untuk mendapatkan perhatian lawan bicara,” kata Iin Respatini, konsultan public speaking. Senyum menunjukkan bahwa Anda adalah pribadi yang hangat dan bersahabat.

Selain itu, buatlah kontak mata yang intens dengan pewawancara. “Kontak mata menunjukkan keinginan untuk dipercaya serta kesungguhan memberikan jawaban.”

Jangan memotong pembicaraan pewawancara. Sebaiknya dengarkan dulu pertanyaan hingga selesai untuk memberikan jawaban yang diminta. Tidak ada salahnya Anda memberikan pertanyaan kepada pewawancara apabila Anda kurang memahami pertanyaan yang diajukan.

Meski wawancara dapat memakan waktu cukup lama, tetaplah bersikap kooperatif. Matikan ponsel agar tidak mengganggu kelancaran wawancara.

Perlihatkan Bahasa Tubuh Yang Positif
Menurut Netty, sikap atau bahasa tubuh yang baik adalah sikap yang tenang dan memberikan perhatian kepada pewawancara. “Dengan sikap tenang dan penuh percaya diri, pewawancara akan memberi penilaian yang positif terhadap pelamar pekerjaan.”

Duduklah dengan posisi tegak dan tunjukkan antusiasme serta ketertarikan pada posisi yang Anda inginkan. Bahasa tubuh seperti itu akan memberi kesan bahwa Anda percaya diri dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Jangan pernah melipat tangan di dada saat wawancara karena akan memberi kesan bahwa Anda adalah orang yang kaku dan defensif.

Bicaralah dengan intonasi dan nada suara yang jelas dan tegas. Jangan lupa, ucapkan salam dan jabat tangan pewawancara Anda dengan erat sebelum dan sesudah wawancara, serta ucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan.

Jual Diri
“Kelemahan saya saat wawancara kerja adalah, saya tidak tahu harus menjawab apa saat ditanya tentang kelebihan dan kekurangan saya, atau saat diminta untuk menceritakan tentand diri saya,” kata Ambar Sari, group product assistant di sebuah perusaah retail.

“Sebelum wawancara, reviulah kembali pengalaman kerja yang telah dan sedang Anda jalani,” saran Netty. Ingat kembali tugas, tanggung jawab, tuntutan pekerjaan, kesulitan dan tantangan yang dihadapi, serta keberhasilan yang telah Anda raih selama melaksanakan pekerjaan itu. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah untuk menyebutkan kelebihan-kelebihan Anda yang berkaitan dengan pekerjaan yang Anda lamar.

Tampilkan hal-hal positif yang pernah Anda raih dan tunjukkan energi serta rasa percaya diri yang tinggi. Tapi ingat, jangan pede berlebihan dan bersikap angkuh, serta melebih-lebihkan pengalaman yang Anda miliki.

Jangan Malu Bertanya
Ajukan beberapa pertanyaan bermutu seputar posisi yang Anda inginkan dan latar belakang perusahaan secara umum. Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus Anda lakukan selanjutnya. Memanfaatkan kesempatan bertanya yang diberikan oleh pewawancara menunjukkan niat dan semangat Anda untuk bergabung dengan perusahaan mereka.

Hal Kecil Juga Penting
Jangan sepelekan hal-hal kecil yang kadang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Tibalah sepuluh menit lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Jalanan macet? Berangkatlah lebih awal. Bila Anda belum mengetahui lokasi tempat wawancara, tidak ada salahnya melakukan survei lokasi beberapa hari sebelumnya.

Sapalah satpam atau resepsionis yang Anda temui dengan ramah, Jika Anda harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan rapi. Meski tidak diminta, bawalah berkas-berkas yang sekirang diperlukan, seperti CV dan surat lamaran. Hindari merokok, mengunyah permen, atau meludah selama wawancara.

“Bila Anda tergolong orang yang mudah merasa cemas atau tegang, luangkan waktu untuk melakukan latihan relaksasi sederhana sebelum wawancara dimulai,” saran Netty. Regangkan badan, tarik napas dalam-dalam, dan hirup udara segar. Membayangkan hal-hal yang menyenangkan juga dapat membantu melepaskan ketegangan.
Wawancara adalah bagian dari proses penerimaan karyawan mempunyai berbagai tujuan. Ada yang dimaksudkan untuk lebih mengetahui keterampilan teknis yang dimiliki pelamar, mengetahui kepribadian pelamar, atau mengetahui kemampuan pelamar menangani berbagai hal.

Wawancara biasanya dilakukan untuk melengkapi hasil tes tertulis. Hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari tes tertulis akan digali melalui proses wawancara. Dalam hal ini, anda dituntut untuk berusaha menguasai diri anda sendiri (khususnya kelebihan dan kelemahan anda). Juga berusaha menguasai bidang pekerjaan yang anda lamar.

Berpakaian yang “baik” dalam wawancara memang tidak dapat digeneralisasikan karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain:

Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang akan mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau “kebiasaan” berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau bahkan ada yang bebas. Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai “orang aneh’, disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria disarankan menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan jas. Berpakaian rapi dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa anda menghargai wawancara ini.

Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (misalkan mengkilap, ngejreng).
Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rok bawah, kancing baju atasan).
Berpakaian dengan desain yang simpel (tidak telalu banyak pernik-pernik, toh ini bukan acara pesta).
Tidak berlebihan dalam menggunakan wewangian dan perhiasan.

Dalam wawancara, faktor diluar “isi” seringkali dapat mempengaruhi keberhasilan suatu wawancara. Mulai dari penampilan, sampai cara berbicara.

Seorang pewawancara yang berpengalaman akan merasakan sebagian karakter yang diwawancara dari sinar matanya. Tidak perlu dengan memelototi, atau dengan sinar mata syahdu, melainkan tataplah secara wajar kepada pewawancara.

Intinya, bahwa melalui tatapan anda selama wawancara haruslah menandakan :
1. Apakah anda cukup percaya diri;
2. Apakah anda berpikir positif terhadap proses komunikasi dalam wawancara tersebut;
3. Apakah anda jujur dengan isi komunikasi anda;
4. Apakah anda tampil “jujur” sesuai dengan kepribadian anda yang sebenarnya, tidak dibuat-buat.

Intonasi akan memperlihatkan apakah anda seorang yang percaya diri atau tidak. Tidak perlu dengan cara mengatur suara seperti seorang pemain sinetron, tetapi cukuplah bahwa anda dapat menggunakan intonasi yang menarik minat lawan bicara untuk terus berkomunikasi.

Usahakan tidak memberi nada agresif, atau nada “menutup” diri. Gunakanlah intonasi yang mewakili dengan isi pesan anda. Volume, warna, dan irama memang harus diatur dengan baik, tetapi bukan harus menjadi orang yang tampil bukan sebagai dirinya sendiri.

Itulah yang dilakukan Wisnu Kencana saat menghadapi wawancara kerja terakhirnya bulan lalu. “Di parkiran, begitu turun dari mobil, saya sempatkan untuk relaksasi sejenak — menghirup udara segar, tarik napas dalam-dalam sambil membayangkan kepuasan yang saya peroleh bila berhasil mendapatkan pekerjaan itu,” kisah Wisnu. “Dalam hitungan ke sepuluh, perut mulas dan rasa deg-degan saya pun hilang.” Wawancara kerja? “Jadi lebih lancar,” jawabnya. “Buktinya, saya berhasil mendapatkan pekerjaan idaman saya.”

Sumber : http://www.ahmadmaulana.com/2009/05/20/tips-jitu-menghadapi-wawancara-kerja/