Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Desember 2009

TIDAK MUNGKIN TAPI BISA



Mario Teguh Golden Ways - TIDAK MUNGKIN TAPI BISABagikan Hari ini jam 12:22Sahabat Indonesia yang super,
yang sedang bekerja keras untuk menjadikan diri dan keluarga tercintanya hidup dalam kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan.
Mudah-mudahan sapa saya di hari Senin yang super ini mendapati Anda dalam kesehatan dan kesungguhan kerja yang indah.
Berikut adalah dasar pikiran dari program MTGW kita yang ditayangkan oleh rekan-rekan baik kita di Metro TV.
Please kindly enjoy, absorb, and apply.
...........
MARIO TEGUH GOLDEN WAYSTIDAK MUNGKIN TAPI BISA

Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya
Posted by Picasa

Jumat, 04 Desember 2009

STUDY TOUR - BALI 2009







Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya
Posted by Picasa

Selasa, 30 Juni 2009

Anda Lebih Penting Dari Masalah Anda


Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Proses pertumbuhan dan belajar selalu melibatkan resiko. Keberanian memberi anda kekuatan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan. Keberanian berasal dari pikiran anda yang jauh lebih bertenaga daripada lingkungan luar anda. Bila anda menyadari bahwa betapa besarnya anda dibanding persoalan yang ada, maka anda akan mendapatkan keberanian untuk mengatasinya.Rintangan akan selalu tampak besar atau kecil sesuai dengan penglihatan anda. Keberanian adalah kapasitas untuk menghadapi apa yang terbayangkan. Ia akan memberi anda kemampuan untuk mengatasi kenyataan.

Melewati rintangan adalah buah dari pencapaian, buah dari keberhasilan. Lihatlah persoalan sebagaimana yang anda inginkan, bukan sebagaimana yang tampak. (Daily Motivation)

Kata Motivasi by Resensinet 

Selasa, 16 Juni 2009

Bagaimana Mengukur Rasa Cinta Kita Kepada Pekerjaan ?






Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Kepada kita selalu dikatakan untuk mencintai pekerjaan. Sebab katanya, jika kurang mencintai pekerjaan yang kita miliki, maka tidak mungkin kita bisa mengoptimalkan potensi diri yang ada dalam diri kita. Nasihat ini sungguh masuk akal. Sebab, tidaklah mungkin bisa bersungguh-sungguh mencurahkan 100% kemampuan yang kita miliki untuk mengerjakan sesuatu yang tidak kita cintai. Tantangannya sekarang adalah; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Tahukah anda? 
 
Hari jum'at pekan silam saya berkunjung ke kantor seorang tokoh pengusaha sukses, sekaligus penulis buku best seller, dan trainer terkemuka yang sangat saya hormati. Beliau membekali saya dengan gift berupa tas yang didalamnya berisi brosur tentang salah satu bidang usaha pengembangan sumber daya manusia yang dikelolanya. Karena isinya cukup banyak, maka saya memutuskan untuk membaca informasi yang ada didalamnya sedikit demi sedikit. Satu demi satu modul dan majalah yang ada saya baca. Sampai pada akhirnya, saya mengeluarkan satu-satunya majalah yang masih tersisa didalam tas itu. Dan, dihadapan saya sekarang ada majalah tentang teknologi dan perkembangan dunia komputer. 
Tidak seperti buku dan majalah referensi lain dalam paket itu, majalah komputer tersebut masih dibungkus plastik, layaknya benda pajangan di rak toko buku. Padahal, dalam diri saya tumbuh sebuah sistem nilai; 'orang yang berhak membuka pembungkus buku adalah sang pemiliknya saja'. Jadi kalau anda bukan pemiliknya, maka anda tidak berhak untuk membuka plastik pembungkus majalah itu; kecuali atas seijin pemiliknya. 
Dalam obrolan kami diruang kerjanya, saya memang mendapatkan 'tambahan' majalah bertema keluarga yang diberikan secara khusus mengingat didalamnya ada liputan tentang keluarga beliau. Jadi, majalah itu bukanlah paket standard gift perusahaan. Oleh karena itu, ketika saya menemukan majalah komputer tadi, maka langsung saya bepikir; "Ya Tuhan, Beliau membeli majalah ini untuk dibaca dan secara tidak sengaja terbawa oleh saya." Lalu, saya bergegas ke kantor pos, dan mengirimkan majalah itu kembali dengan sepucuk surat berisi permohonan maaf. Dua hari kemudian, saya mendapat SMS dari beliau yang mengatakan bahwa majalah itu memang termasuk kedalam paket yang diberikan kepada saya! 
Betapa noraknya saya ini, bukan? Tetapi, kenorakan yang memalukan itu terbayar lunas ketika saya teringat bahwa pada cover majalah komputer itu ada sebuah poster film animasi yang fenomenal. Anda bisa menebak film apa itu? SpongeBob. Ya, SpongeBob SquarePants. Anda suka menonton film itu? Saya menyukai saat-saat menikmati tayangannya bersama anak-anak. 

Kembali kepada pertanyaan kita diatas; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Mungkin kita bisa mempertimbangkan untuk bertanya kepada SpongeBob. 'Ayolah, jangan bercanda!" barangkali anda berpikir begitu. Tidak. Saya tidak sedang bercanda. Saya kira SpongeBob bisa mengajari kita tentang rasa cinta kepada pekerjaan. Saya tahu; tidak ada jaminan bahwa SpongeBob bisa memberikan jawaban eksak tentang cara mengukur dan alat ukurnya. Tetapi, SpongeBob bisa menunjukkan kepada kita bagaimana semestinya kita mencintai pekerjaan. 
 
Ada banyak hal dalam kehidupan yang membuat SpongeBob sedih, kesal, atau marah. Dia bisa menangis tersedu-sedu karenanya. Lalu memelintirkan tubuhnya untuk memeras semua airmata yang dimilikinya agar terkuras habis. Dan, setelah pori-pori spon pada tubuhnya kehabisan air; dia segera tertawa kembali sambil menunjukkan gigi depannya yang besar-besar dan jarang. Begitulah SpongeBob. Dia bisa segera tertawa kembali; dan menemukan hidupnya, kembali normal. Namun demikian, tahukah anda bahwa ada satu hal didunia ini yang bisa membuat SpongeBob bersedih tanpa henti? Tahukah anda apa itu? Itu adalah saat dimana Tuan Krabs memintanya untuk berhenti bekerja. Ketika itulah SpongeBob bersedih alang kepalang, sehingga Patrick si bintang lautpun tidak dapat menghiburnya. 

Anda boleh bilang; "Ya kalau itu sih bukan cuma SpongeBob. Gue juga bakal sedih betul kalau sampai diberhentikan dari pekerjaan!" Mungkin sama. Mungkin juga tidak. Sama, karena kebanyakan orang yang terkena PHK merasa bersedih. Kebanyakan: tidak semua. Sebab, ada saja yang malah senang mendapatkan paket PHK, bukan?. Tapi, pada umumnya orang bersedih jika di-PHK. Sponge bob juga bersedih. Jadi, itu adalah hal yang lumrah. Tetapi tidak sepenuhnya sama, karena kesedihan SpongeBob berbeda dengan kesedihan kita kalau kena PHK. 
 
Kita, jika kena PHK bersedih karena memikirkan seribu tanya tak berjawab; "Saya mau kerja apa lagi setelah ini? Cari pekerjaan kan susah setengah mati? Anak istri saya mau dikasih makan apa?" Padahal kan sudah jelas; ya dikasih makan nasi-lah. Masa dikasih kerikil. Kita berputus asa. SpongeBob berbeda. Dia bukan mempertanyakan semuanya itu. Dia bersedih karena benar-benar mencintai pekerjaannya sebagai juru masak di restoran milik Tuan Krabs. Ukuran cinta SpongeBob ditunjukkan dengan kegembiraannya setiap kali dia bekerja. Tengoklah filmnya sesekali jika anda perlu membuktikan kata-kata saya ini. Ketika bekerja, SpongeBob selalu tampil ceria. Dan dia selalu didorong untuk membuat masakan terbaiknya hari itu. Kompor. Kuali. Minyak goreng. Api. Adonan roti. Sebut saja apa. Semua yang berhubungan dengan pekerjaannya dijadikan sahabat dimana dia bisa menikmati hidupnya. Menikmati proses menjalani pekerjaannya, sehari-hari. 
 
Begitulah wujud sebuah cinta kepada pekerjaan adanya. Maka tidaklah mengherankan jika restoran Tuan Krabs sangat sulit untuk ditandingi. Bahkan, investor yang mendatangi Tuan Krabs untuk mengakuisisi Krusty Krab dengan imbalan uang yang melimpah ruah pun tidak berhasil menggeser kepemilikan restoran itu. Tahukah anda apa penyebabnya? Anda tahulah, jika mahluk rakus uang seperti Eugene H. Krabs ditawari cash yang melimpah; pasti dia akan menyerah begitu saja. Sekalipun itu berarti bahwa dia harus kehilangan restoran miliknya. Jadi, sudah tentu bukan keengganan Tuan Krabs penyebab kegagalan akuisisi itu. Lalu apa dong? 

Jawabannya adalah; Kecintaan SpongeBob kepada pekerjaannya. Kita semua tahu betul bahwa bekerja yang dilandasi dengan rasa cinta akan memberikan hasil terbaik. Kualitas produk yang dibuat oleh orang-orang yang mencintai pekerjaannya pastilah berkelas nomor satu. Dan itulah yang terjadi pada SpongeBob. Karena cintanya pada pekerjaan, dia dapat menghasilkan masakan yang paling enak diseluruh Bikini Bottom. Dan itu menyebabkan semua penduduk kota menyukainya. 
Ketika investor kapitalis itu datang untuk mengakuisisi restoran Tuan Krabs. Dan dihadapannya sudah terhampar sejumlah nyaris tak terbilang uang. Surat perjanjian jual beli siap untuk ditanda tangani. Tiba-tiba, penduduk dunia ikan seisi kota air mendatangi restoran itu. Mereka berdemo, untuk menghentikan transaksi itu. Mereka tidak menginginkan akuisisi itu. Lalu, apa hak mereka? Bukankah restoran itu milik Tuan Krabs? 
Benar. Restoran itu milik Tuan Krabs. Tetapi, ada satu komponen penting di restoran ini yang dimiliki oleh semua orang seisi kota. Tahukah anda apa gerangan itu? SpongeBob. Ya, SpongeBob SquarePants dengan cita rasa masakan yang dibuatnya berkat bumbu rahasia bernama cinta kepada pekerjaan. Cinta itu melahirkan dedikasi. Dan dedikasi memunculkan kesungguhan. Sementara, kesungguhan menghasilkan keunggulan. 
 
Kembali kepada pertanyaan kita diatas; bagaimana mengukur rasa cinta kita kepada perkerjaan? Apakah sekarang anda sudah menemukan jawabannya? 
 
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
 
Catatan Kaki:
Tidak perlu menunggu terkena PHK terlebih dahulu untuk mulai mencintai pekerjaan yang kita miliki. Karena jika demikian, maka semuanya sudah teramat sangat terlambat. 
 
 -Jens Lehmann Inc.-

Action & Wisdom Motivation Training


Sekolah Perhotelan dan Pariwisata Darma Cendika Surabaya

 KISAH SI PENEBANG POHON  

Action & Wisdom Motivation Training 

"Kan Shu De Gu Shi" 

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.  

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.  

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu."  

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.  

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"  

"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.  

"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan.  

Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.  

"Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu" 

Istirahat bukan berarti berhenti. 

"Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu" 

Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. 

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru! 

Salam sukses luar biasa! 

Andrie Wongso